21 Januari 2009

asuhan keperawatan klien dengan HIV- Meningitis

LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa : Agustin Indracahyani
NPM : 0806417896
Diagnosa Medis : HIV/ AIDS dengan
Meningitis
Tanggal Praktik : 25-29 November 2008
RS/ Ruangan : RSCM/ PW Lt. 1


I. ETIOLOGI
§ 1983 : awalnya bernama Lymphodenopathyassociated virus -LAV)
§ 1984 : Human T-Cell Lymphotropic Virus ype III (HTLV-III)
§ 1986 : Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Karakter HIV :
§ Hidup pada makhluk hidup (di luar à dorman)
§ Retrovirus bagian dari famili retroviridae dan memiliki RNA-dependent DNA polymerase (reverse transcriptase).
§ HIV menginfeksi sel T- helper, makrofag, sel B dan beberapa sel di otak dan SSP
Tipe HIV :
§ HIV-1
HIV-1 tersebar di seluruh dunia, bersifat lebih infeksius. Merupakan anggota subfamili lentivirus dari Human retrovirus (karakteristik penyakit oleh lentivirus adalah melibatkan SSP secara progresif dan berakibat pada gangguan sistem imun. HIV-1 merupakan salah satu dari 5 virus di famili retrovirus, yaitu HIV-2, HTLV-I, II, IV. Terdiri dari:
ü HIV-1 grup M dengan subtipe A, B, C, D, E, F, G, H, I, J (berdasarkan analisis pilogenetik gen)
ü HIV-1 grup O, tidak dapat dideteksi dengan tes anti-HIV secara rutin
§ HIV-2, terutama di Afrika Barat, bersifat kurang infeksius.

I. PENULARAN HIV
§ Membran mukosa genital : hubungan seksual
§ Epitel intestin : ASI dari penderita HIV
§ Darah : transfusi darah, jarum suntik bergantian, transplasenta, alat yang terkena
Darah

II. PATOGENESIS
1. HIV menempel pada membran sel target melalui molekul reseptor CD4+
2. Virus melepas mantel à RNA masuk sel
3. Sekresi enzim reverse transkriptase : RNA virus + RNA sel à DNA baru terbentuk
4. DNA baru masuk nukleus dan DNA sel
5. Provirus dibentuk saat DNA virus + DNA sel
6. Sel bingung saat provirus terbentuk
7. Materi genetik sel tidak murni dari sel, bagian dari sel à sel mengalami gangguan fungsi
8. sel host mati dan terjadi pembentukan virus à virus baru menginfeksi sel lain

Target utama HIV adalah sel T4 helper, melalui molekul CD4 yang berperan sebagai reseptor HIV ke sel T4 helper. Molekul CD4 ditemukan pula di makrofag, monoist, sel glia. Sel CD4+T4 helper berperan sebagai sel regulator dalam sistem imun, berinteraksi dengan monosit, makrofag, sel T sitotoksin, sel NK, dan sel B.
Kadar normal CD4+ 500-1600/ mm³. sumber lain mengatakan 600-1200/ mm³. (pada neonatus 2 kali lipat kadar pada orang dewasa).

Perubahan hasil laboratorium mengindikasikan disfungsi imun:
§ penurunan leukosit
§ penurunan total dan persentase limfosit
§ perubahan rasio CD4/CD8+
§ penurunan CD4+
§ penurunan atau tidak adanya reaktivitas skin test (anergi)
§ peningkatan level Immunoglobulin

III. MANIFESTASI KLINIS
Klasifikasi dengan 2 parameter, yaitu kategori laboratorium dan kategori klinis.
1. Kategori Laboratorium
§ Kategori 1 : sel CD4 + > 500/ mm³
§ Kategori 2 : sel CD4 + 200-499/ mm³
§ Kategori 3 : sel CD4 <200/ mm³
2. Kategori Klinis
§ Kategori A : memiliki satu atau lebih kondisi berikut (tidak disertai kondisi yang terdapat dalam kategori B dan C)
ü Infeksi HIV asimptomatis
ü PGL (Persistent Generalized Lymphodenopathy)
ü Infeksi HIV akut/ primer (ARS- Acute retroviral Syndrome)

§ Kategori B : kondisi simptomatis (tidak disertai kondisi dalam kategori C)
Kondisi yang mengindikasikan defek cell-mediated immunity. Kondisi yang dianggap mempunyai manifestasi klinis yang merupakan komplikasi dari infeksi HIV:
ü Endokarditis bakterial, meningitis, pneumonia, sepsis
ü Kandidiasis vulvovaginal (persisten > 1 bulan atau kurang responsif terhadap terapi)
ü Kandidiasis orofaringesal (oral thrush)
ü Displasia servikal, berat, karsinoma
ü Gejala konstitusional: demam (>38°C), diare > 1bulan
ü Leukoplakia oral berambut
ü Herpes zooster
ü Listeriosis
ü TB pulmonal
ü Nokardiosis
ü Penyakit inflamasi pelvis
ü Neuropaty perifer

§ Kategori C : AIDS à Immunodefisiensi berat

IV. FASE HIV/ AIDS
1. Periode jendela (window periode)
Periode dimana terjadi infeksi dan mampu menginfeksi orang lain naumn bila dilakukan pemeriksaan laboratorium, maka hasil akan negatif (-). Perlu re-cek setiap 3 bulan
2. Infeksi Akut
Infeksi HIV akut/ primer (ARS- Acute retroviral Syndrome), terjadi pada minggu ke-4 dengan manifestasi: demam, limfodenopaty, leukopenia, kelelahan, faringitis, sakit kepala, rash, diare, mual mutah, hepatosplenomegali (BB turun 10%), ulser pada mulut, gejala neurologis, myalgia, arthalgia, berkeringat malam.
3. Fase Asimptomatik
§ Tidak ada tanda-tanda klinis infeksi HIV
§ Replikasi virus terus menerus à jutaan sel virus dan CD4 direproduksi dan dihancurkan setiap hari
§ CD4 menurun 50-90 sel/ mikroliter tiap tahun
§ Mulai terjadi keseimbangan virus dan antibodi
§ Jika sudah melampaui viral load, maka akan terjadi fase simptomatik
4. Fase Simptomatik à muncul gejala
5. Fase AIDS
§ Timbul infeksi opportunistik dan neoplasma
§ Gejala AIDS setelah CD4 <200/ mikroliter

V. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. CD4 : (tiap 3-6 bulan)
2. ELISA : pemeriksaan antibodi
3. Western Blot : konfirmasi ada atau tidaknya HIV
4. Pemeriksaan P24 : Penelitian rapid test
5. Viral Load

VI. PENANGANAN
1. ARV/ART
Zidovudin : memperlambat replikasi RNA virus
§ Line 1
Efek samping: peningkatan gangguan metabolisme lemak à hipermetabolisme (menjadi sangat kurus), hiperkolesterolemia, mimpi buruk, gangguan sistem saraf, resistensi.
§ Line 2
§ Line 3
ARV diberikan bila CD4/ VL <200/ mikroliter.
2. Perawatan supportif
§ Memperbaiki masalah gizi/ nutrisi
§ Oral hygienen à banyaknya krustae di mulut karena kandidiasis
§ Diare kronis à makanan parenteral
3. Perawatan Opportunis
Mengobati infeksi opportunistik. Misal obat anti-toxoplasmosis

VII. MENINGITIS PADA KLIEN DENGAN HIV/ AIDS
Meningitis adalah peradangan umum lapisan leptomeningen, sehingga menimbulkan proses inflamasi pada meningen dan berlanjut pada jaringan otak , serta berakibat pada peningkatan TIK. Pada kasus ini, terjadi akibat defisiensi imun (HIV/AIDS).
§ Meningitis pada klien dengan HIV/AIDS dapat berupa aseptik, criptococcus, dan tuberkulosis
§ Aseptik meningitis (akut maupun kronik) disertai sakit kepala, namun tanda iritasi meningeal lebih umum pada meningitis akut. Dapat pula disertai cranial nerve palsy, akibat infeksi HIV ke SSP.
§ Infeksi jamur yang paling umum adalah meningitis cryptococcus.
Klasifikasi Meningitis
§ Berdasarkan liquor(melalui Lumbar Pungsi L4-L5)
1. Meningitis Serosa : bening (eg: TB,…)
2. Meningitis purulenta : eksudat (eg: Pneumonia, Staphylococcus,…)
§ Berdasarkan ada atau tidaknya kuman
1. Aseptik : karena zat toksina tau virus
2. septik : karena kuman
Port de Entre:
1. Hematogen (80 %) : oleh TB, virus, streptokokus, meningokokus
2. Cedera Kepala
3. ISPA : faringitis (melalui tuba eustachius à penetra ovaris (telinga tengah à telinga dalam à langsung ke otak), sinusitis
4. Penyakit Telinga : otitis media àperforata (OMP) ataupun akut (OMA)
Tanda Iritasi Meningeal
1. Kaku Kuduk
2. Kernig’s Sign (+)
Posisi klien rekumben, paha kanan fleksi ke abdomen, lutut fleksi 90 °terhadap paha. Sedangkan kai satunya diluruskan. Ekstensikan kaki yang difoleksi. Jika meningitis akan terasa nyeri.
3. Brudzunski’s Sign (+)
Posisi klien supine. Kepala diangkat cepat. Jika klien mengalami meningitis maka saat kepala difleksi paha dan lutut tertarik.
Komplikasi
1. hidrosephalus
2. epilepsi
Pemeriksaan Penunjang
1. Lumbal Pungsi
Dapat terjadi herniasi otak (jaringan otak terbawa VP shunt – Ventriculo-Peritonial Shunt
§ Tes Nona (menilai Globulin)
Globulin meningkat menandakan adanya infeksi, respon tubuh terhadap kuman
§ Tes Pandi (menilai Albumin)
Kedua tes Nona dan Pandi perlu dilakukan untuk mengetahui tipe meningitis apa yang terjadi, bila yang terjadi adalah meningitis akibat toksik maka kadar globulin tetap sedangkan kadar albumin meningkat.
2. Analisa CSF
No
Komponen
Normal
Bakteri
Virus
Fungi
1
Warna
bening



2
Tekanan
0-15 mmHg



3
SDM
0
1000-5000
50-1000

4
SDP
0-5
meningkat
meningkat
> 20
5
Protein
18-45 mg/dL
104-500
<200
>45
6
Glukosa
45-80
5-40
>45
<40
7
Elektrolit
§ Na
§ K

135-145
3,5-4,5



8
Netrofil
0
>80
<40

9
Opening pressure
100-800
200-500
<250
>200

3. CT Scan
4. Laboratorium
5. EEG
Melihat fungsi otak. Adanya kerusakan otak terlihat dengan gelombang yang tidak normal.

1 komentar:

saya mengatakan...

Hmmm .. bagus Agutin ,perbanyak postinganya yah ..??